Loading
Play
Extreme Radio Show
Play
Extreme Radio Show

SEPENGGAL SEJARAH SAPARUA

Dalam jejak panjang musik independen Indonesia, tak bisa lagi dipungkiri pengaruh besar yang dimiliki oleh Saparua. Sebagai sebuah gelanggang, ruang yang diberikan Saparua tak membatasi diri pada fungsi awal yang ditujukan hingga dapat mewadahi pertunjukan musik yang mengharumkan namanya. Dengan berbagai gigs monumental yang diselenggarakan di Saparua, seperti Hullabaloo, Bandung Berisik dan lain sebagainya, tak ayal kemudian Saparua menjadi ikon atas pergerakan musik independen. Berkaca pada besarnya pengaruh dan semangat yang lahir di Saparua, proyek film “Gelora Magnumentary: Saparua” digagas.

Proyek ini digarap oleh Rich Music dalam sebuah rangkaian program DistorsiKERAS berdasarkan proyek Membakar Batas yang telah diprakarsai oleh Cerahati sejak 2011 lalu. Mendapuk Alvin Yunata sebagai sutradara, film ini merupakan bentuk upaya konservasi ruang agar terdokumentasi dan menjadi sejarah yang dapat dikonsumsi luas oleh generasi berikutnya. Sebagai individu dibalik Irama Nusantara, Alvin telah bergerak sebagai aktivis konservasi musik sehingga program ini merupakan perluasan kerja-kerja pengarsipan yang ia lakukan. 

Pada proyek dokumenter ini, Alvin menghadirkan sudut pandang Saparua sebagai sebuah entitas ruang yang berdiri di antara organ-organ yang menopangnya seperti komunitas hingga warga yang menyambung hidup di sekitarnya. Dengan naskah yang ia garap bersama tim Hazed, Alvin melakukan penelitian mendalam atas arsip-arsip terkait aktivasi Saparua hingga wawancara terhadap pelaku-pelaku pergerakan tersebut. Dari penelusuran tersebut didapati bahwa sebelum dijadikan sasana olahraga, Saparua yang merupa lapang telah digunakan sebagai wadah pesta rakyat sejak 1920-an dengan sajian musik kroncong. Pemanfaatan Saparua sebagai wadah gelaran seni kemudian terus terbawa pada generasi-generasi berikutnya hingga terpaksa terhenti berkat pelarangan yang diberlakukan pasca tragedi AACC 9 Februari 2008 sebagaimana Seringai rekam dalam lagunya Dilarang di Bandung. 

Melalui rilisan pers yang dibagikan, Alvin Yunata mengatakan, “Film ini adalah sebuah jurnal dari sebuah gedung yang kemudian sejak berdirinya dengan sengaja dialihfungsikan juga sebagai sarana panggung seni dan hiburan dari generasi ke generasi. Namun ada fenomena menarik di decade terakhir sebelum gedung ini dinon-aktifkan, yaitu lahirnya sebuah generasi yang menjunjung tinggi kolektifitas di mana mereka bisa mengubah gedung ini bukan lagi menjadi sekedar gedung pertunjukan seni namun lebih dari itu, di mana sebuah titik melting pot ini melahirkan ideologi baru di kalangan budaya pop, ruang pertukaran informasi dan sebuah pergerakan yang mampu membawa gedung ini sebagai salah satu kuil rock n roll dalam sejarah scene musik underground di Indonesia.” Semangat kolektifitas inilah yang menjadi sorotan Alvin dalam penggarapan film ini, sebagaimana turut dirasakan pula oleh para penggagas program ini.

Lebih dari sekadar ruang, Saparua memiliki pengaruh yang besar terhadap nilai-nilai personal bagi para pelaku di dalamnya. Aska Pratama, gitaris Rocket Rockers mengenang bagaimana Saparua membangun mimpinya untuk terjun dalam kancah permusikan. Pada konferensi pers yang diadakan Selasa, 30 Maret 2021, Aska mengenang bagaimana sang ibu mengisi formasi awal Bimbo yang tampil di Saparua. Pengalaman ini mengenalkan Aska terhadap Saparua sebelum akhirnya turun langsung sebagai penonton dan membangun mimpinya untuk dapat mengisi panggung yang sama.  Panggung Saparua-lah yang membuat Rocket Rockers dapat muncul dalam film dokumenter PUNK’S NOT DEAD THE MOVIE: A Revolution 30 Years In The Making.  “12 Detik paling berharga dalam hidup gue,” Aska mengenang.

Pelibatan ini hadir dari besarnya apresiasi pihak luar terhadap ekosistem Saparua yang berjalan dengan massif. Mengandalkan etos Do It Yourself, gigs-gigs di Saparua berhasil menyerap hingga 7000-an penonton dan berlangsung secara rutin. Angka ini menunjukan besarnya jangkauan gerakan ini bahkan hingga mengundang rasa penasaran scenester luar. Permintaan atas dokumentasi Saparua ini kemudian muncul meskipun kala itu, sebagaimana Arian sampaikan pada kesempatan yang sama, tidak dapat dipenuhi berkat kurangnya upaya pengarsipan yang dilakukan. Pengalaman inilah yang kiranya memantik inisiasi program ini, berkat kesadaran atas kurangnya dokumentasi dari momen sejarah tersebut, sebagaimana Edy Khemod selaku Creative Director Cerahati sampaikan.

Meski tak lagi menjadi rumah atas berbagai pertunjukan musik, Saparua tetap menjadi titik temu atas berbagai kegiatan solidaritas sosial seperti Baksos, dapur umum, hingga pasar gratis. Karenanya, program dokumentasi Saparua ini tak hanya berarti sebagai kerja-kerja pengarsipan, tetapi juga sebagai upaya konservasi. Semangat kolektifitas yang menjadi ruh bagi Saparua tak boleh mati dan perlu untuk terus dijaga melalui upaya-upaya semacam ini.