Loading
Play
Extreme Radio Show
Play
Extreme Radio Show

Music Archiving and Live Tracing 2021: Merangkum Visi dan Nadi Esok Hari

Oleh Karel

Kalian sudah boleh hitung mundur dari hari ini, sejak carik kabar ini diterbitkan untuk menyongsong gelaran akbar Extreme Moshpit Awards 2021 yang akhirnya akan resmi dihelat di kuartal awal 2022, yakni tanggal 26 Maret 2022 mendatang. Itu adalah tanggal baik. Sebab hari tersebut merupakan kelahiran mendiang Aries Tanto alias Ebenz yang sungguh kita hormati. Surga dan kesucian heavy metal pantas menyemat beliau di atas sana sekarang dan selamanya. Kami rindu!

Bagi kalian metalheads atau coba diperluas —jemaat penggemar musik ekstrem nusantara yang berkualitas—sudah kepalang tak sabar menanti acara ini. Apalagi ledakan ini seharusnya dilaksanakan, tatkala pagebluk keparat ini sudah mulai melandai di negeri ini. Tapi semesta memang sengaja menggesernya, demi kemaksimalan yang hakiki. Ditambah dengan kepergian Ebenz di awal September yang hangat namun kelabu, dimana rasanya ini adalah waktu yang tepat meneruskan spirit sekaligus cita-cita beliau dengan khusyuk nan membakar. Kami tidak berhenti dan kalah, kami para penggawa selalu terus menghajar medannya apapun yang terjadi. Uap mesinnya kini tengah ada di tangan kami dan kalian semua.

Proses menuju altar Extreme Moshpit Awards 2021 telah berjalan pelan tapi pasti. Seperti memainkan entitas-entitas baru atau band yang memiliki album hebat di program Extreme Moshpit Live, setiap tengah pekannya. Tradisi ini memang sudah bergulir sejak lama, tapi poin penting yang ingin digenggam yakni perspektif akan kepedulian pengarsipan dan bagaimana suatu kelompok melihat fenomena sinerginya musik dengan topangan kuat visual.

Selebihnya adalah satu titik krusial, dimana regenerasi harus terus berputar dan kian menggerinda, meski terdengar basi dan sungguh payah membahas poin ini. Lantas, Extreme Moshpit tentunya dapat menjadi kawah yang tepat guna memayungi band-band seminal kualitas wahid, entah itu sudah berumur panjang atau yang baru saja menjadi tunas basah di suatu kancah.

Itu adalah lanskap yang ingin dan tengah ditangkup oleh Extreme Moshpit di musim ini. Alhasil, pekan kedua September 2021, setelah tema besar ini dicanangkan secara ajeg, band-band yang pernah melangsungkan aksi musikalnya di Extreme Moshpit Live khususnya, memberi celotehnya betapa penting dua hal yang saling bertaut itu. Seperti yang diutarakan secara seksama oleh grup Turbidity (Bandung) dan Busuk (Depok). Sepakat keduanya begitu menyayangkan kepedulian sebuah grup musik apabila tengah mengarungi kancah, mereka abai akan sistem mengarsip berbagai hal.

Daniel, pemain gitar Turbidity sampai pernah berucap ke kami, “Saya dan kawan-kawan lain menganggap ini penting, kami enggak mau satu momen apa yang kami jalani hilang begitu saja, hanya karena enggak kelewat mengarsipkan sesuatu, apalagi pas si Turbidity mau manggung.”

Ucapan yang serupa pun terlontar dari pentolan grindcore Busuk, Adul. “Kami di Busuk melek akan hal itu. Terkadang lupa tapi pasti ditolelir. Namun, sebisa mungkin enggak ada yang sampai kelewatlah,” ujarnya kepada kami, satu jam sebelum tampil di akuarium Extreme Moshpit Live, pada pekan ketiga September.

Arsip sendiri akan sangat berguna dan begitu fungsionalnya di kemudian hari. Ketika semuanya membutuhkan, entah itu karen kepepet atau tengah dijadikan sebagai karya maupun referensi baru di masa depan. Dan, satu yang patut menjadi garis besarnya, arsip tidak mengenal bentuk, ia bisa berupa apapun, sebut saja fotografi, ilustrasi mau bergerak atau tidak, video atau film hingga catatan-catatan kaki yang akan menjadi fondasi pentingnya. Di ranah musik arus pinggir khususnya; tape, CD, piringan hitam, artwork cover, fanzine, newsletter, gig poster hingga kaus atau pin sekalipun dapat menjadi arsip yang berarti. Minimal si pegiatnya menyimpannya dengan begitu apik dan tak berserak.

Bergeser sejenak ke satu poin mengenai regenerasi. Seperti yang dijelaskan di beberapa paragraf sebelumnya, sesekali bolehlah kita saling berdebat kemana kancah ini akan dibawa dan mana kemunculan band baru. Tetapi yang didapat oleh Extreme Moshpit melebihi anggapan-anggapan usang itu. Band-band baru maupun beberapa entitas segar dari kawasan terjauh pun berbondong-bondong menampakan karyanya di permukaan hingga hari ini. Bahkan Extreme Moshpit bejibun menerima banyak rilisan dari darah-darah muda ini.

Fenomena para rookie (istilah band-band baru-RED) ini terus menerus mencuat ditanggapi dengan serius oleh unit asal ujung paling timur kota Bandung, Cinunuk yakni Muchos Libre ketika mereka bersiap ugal-ugalan di Extreme Moshpit Live. Dilla Anbar, salah satu penyanyi di band rock gulat kawaii-desu ini mengatakan dengan banyaknya grup musik muncul, harus selalu ada yang ditonjolkan. “Rookie itu harus mencolok dan beda dengan yang lain. Harus ‘sombong’ dalam konteks yang baik dan keren. Percaya diri sama karyanya. Saya hampir setiap hari menyimak dan mendengarkan musik baru. Saya paling suka pas memang keren dan enggak norak!,” ucapnya sambil diiringi tawa dari kawan-kawan bandnya.

Muchos Libre adalah salah satu contoh dari sekian banyak band atau generasi yang tumbuh di persimpangan era. Mereka berada di in betweens. Imbang dalam berproses pergaulan di lingkup perkancahan. Dengan mengedepankan marwah rock yang jahil plus nakal, memberi dosis gimmick kultur pop yang mendunia, sebut saja gulat (Meksiko) dan otaku (Jepang). Terlepas dari konsistensi mereka, regenerasi dan tonggak masa lampau kolam kancah tengah berada dalam setir tepat.

Untuk ranah visual yang juga didegungkan oleh Extreme Moshpit, para penampil di dua bulan terakhir yakni November dan Desember juga sungguh gatal dengan hal itu. Seperti dua unit yang tengah naik daun di ranah post hardcore atau metal terkini, For Revenge dan Undelayed. Keduanya sungguh peduli dan apik ketika mengurusi tetek bengek yang berhubungan dengan lingkup visual. Mereka getol menggunggah aksi bermainnya di media sosial dalam bentuk stage photography maupun music video. Visual sendiri seperti yang tertera di atas, memilik saling bertautan dengan kegiatan pengarsipan. Bila hal tersebut dirawat dengan semestinya, maka tak aneh bila di kemudian akhir bentuknya dapat menjadi sangat mutakhir.

Selebihnya, unit seperti Warkvlt, SSSLOTHHH, Summerlane, Traitors, Vox Mortis dan Viscral juga peduli dan melek dengan tiga paku (arsip, visual dan regenerasi) yang digenggam sebagai payung besar tema arwarding di tahun depan, bagi Extreme Moshpit. Berkarya bukan hanya merajut eksistensi dalam kehidupan bermusikal saja, namun sikap sebagaimana manusia meyakini yang mereka taruhkan dalam hidup. Ebenz, Robin Hutagaol, Dwinanda Satrio, Krishna Sadrach, Arry Yanuar sampai Ivan Firmansyah telah memberi bukti sahih itu sebelum berpulang. Percaya sekaligus teguh dengan apa yang mereka perbuat. Ultra total bersama peluru panas heavy metal yang maha agung. Rest in love! Welcome back for Extreme Moshpit Awards! Hajar terus jalanan!