Loading
Play
Extreme Radio Show
Play
Extreme Radio Show

GELORA YANG MEMBAKAR MANUSIA ESOK HARI

Tiga dekade pergerakan musik bawahtanah yang ditonggaki oleh Gelora Saparua mewariskan kita berbagai spirit yang terbangun sepanjang waktu. Dari spirit pedobrak yang lahir pada dekade 1990an, spirit pengelola dengan berbagai pola pergerakan; spirit keterbukaan, sinergi dan kolaborasi dengan kelompok masyarakat yang lain; spirit penggalian nilai kearifan lokal, spirit kesadaran sebagai bagian dari mahluk global, spirit pembangunan kultus dan narasi, hingga berbagai pola pergerakannya di ranah ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan bagaimana baresan masih tetap terjaga kuat bahkan berkembang. Spirit-spirit ini bertransformasi dari masa ke masa yang dimanifestasi dengan terbentuknya ragam pola pengembangan ranah musik yang khas, unik, dan otentik dengan ikatan budaya dan jiwa jamannya.

Tahun 2020 ketika dunia seakan berhenti akibat pandemi dan venue penampung keramaian seakan tak lagi berarti, disrupsi sudah dimulai. Orang-orang melakukan eksodus besar-besaran untuk mencari ruang-ruang baru yang dirasa mampu mewadahi hasrat kreasi hingga hasrat konsumsi. Dunia maya kemudian menjadi satu-satunya ruang paling aman tempat orang-orang berlari, berkumpul, dan membentuk masyarakat baru. Konser-konser virtual digelar dan bola panas teknologi bergulir ke satu sisi yang sebelumnya abai disentuh. Infrastruktur keahlian baru para penggiat musik terbentuk dengan penguatan di lini broadcasting, fotografer, videografer, selain para pengelola media. Tolak ukur musisi juga bertambah, bahwa musisi yang bagus kini tak hanya yang kuat menghajar panggung nyata, namun juga gape mengelola panggung virtual.

Tren virtual juga ditambah dengan dukungan media sosial yang semakin beralih ke ranah multi media terutama video. Setelah era Facebook Live, YouTube, dan kanal-kanal sejenis, ragam media sosial menyediakan fitur-fitur yang sama untuk mewadahi para musisi dan audiensnya berinteraksi. Tiktok dan Instagram Reels, dua fitur terbaru misalnya, memberikan pengalaman bagi pengguna dalam membuat, membagikan, serta mengedit video berdurasi pendek yang dilengkapi dengan audio dan musik. Dua kanal ini segera menyeruak dan menjadi favorit baru bagi para pengguna telepon genggam. Country Director untuk Facebook di Indonesia, Pieter Lydian, secara lugas mengatakan bahwa fitur-fitur ini akan mampu mendorong kreativitas pengguna dan membantu mereka menjangkau audiens baru di skala global. Lebih jauh Lydian juga mengungkapkan, dengan Reels para pengguna dapat menemukan, menonton, dan terhubung dengan lebih dari 1 miliar pengguna Instagram secara global melalui sebuah bagian khusus di Explore. Reels dinilai dapat membantu pengguna serta kreator-kreator muda untuk menjangkau audiens baru di panggung internasional.

Setahun sebelumnya, ketika ranah virtual mulai menjadi pilihan utama bagi para musisi untuk  menemukan panggung baru bagi musik mereka, seiring dengan maraknya Zoom dan YouTube Live, wacana untuk membangun jaringan internet semakin mengemuka. Perubahan 4G menuju 5G menjadi satu isu yang marak diperbincangkan dan disebut sebagai solusi bagaimana pergelaran musik live bisa secara efektif dipergunakan.

Eksperimen konektivitas 5G di dunia hiburan sudah dilakukan Verizon Wireless lewat The Chainsmokers, saat mereka konser di stadion Chase Center, San Francisco, 29 November 2020. Menggunakan ponsel 5G, sejumlah penggemar terpilih mengarahkan ponsel mereka ke panggung dan melihat The Chainsmokers dalam augmented reality (AR). Ada tampilan grafik beresolusi tinggi yang menyesuaikan musik, dan dikontrol oleh produser pertunjukan. Itu bisa terjadi karena koneksi 5G yang cepat, bandwith tinggi, dan jeda waktu yang rendah. Bahkan, 5G juga bisa membuat multi-user experience, yaitu sesama penggemar bisa bermain-main dengan obyek lewat ponsel 5G mereka. Menghadirkan jaringan cepat di stadion dengan banyak penonton memang jadi tantangan tersendiri bagi operator. Dulunya, hal itu sulit dilakukan, tetapi 5G memiliki teknologi mmWave, yang bisa mengantar data dengan kecepatan tinggi dan kapasitas sangat masif hingga 1.6 Gbps di stadion dalam ruangan (indoor). Verizon saat ini telah mengutilisasi jaringan 5G di 18 kota, termasuk fasum seperti taman, stadion NFL dan basket, hingga berbagai lansekap bersejarah.

Hal yang sama juga digunakan di parade Augmented Reality (AR) dengan jaringan 5G di Macys Day, Bryan Park, New York. Dalam acara Snapdragon Summit 2019 di Maui, Hawaii, Steve Aoki yang dikenal sebagai DJ, produser, dan entreprenur bercerita soal augmented reality, virtual reality, serta mixed reality yang tampil sebagai bagian dari pertunjukannya pada masa depan. 5G perlahan digadang sebagai infrastruktur utama dalam industri hiburan. ”Jaringan 5G akan mengubah masa depan live entertaintment. Karena akan tercipta hubungan spesial antara fans dan artis,” ujar Penny Baldwin, SVP, Chief Marketing Officer Qualcomm. ”Bayangkan ketika di sebuah konser, fans di rumah bisa menonton live stream 4K ataupun AR dengan suara dan tampilan yang sama. Potensinya besar, karena live music adalah industri bernilai USD48 miliar setahun,” beber Penny lebih jauh lagi.

Tentu saja dengan nilai uang sedemikian besar, ini menjadi hal yang sangat serius untuk dibangun di dunia global dan perlahan pasti akan menginfiltrasi visi industry musik di Indonesia. Terutama musik ektrim dengan berbagai eksplorasinya yang tanpa batas, perkembangan teknologi dan budaya baru ini akan segera mewarnai gelora-gelora pengembangan ranah musik. Terikan-teriakan dulu hingga kini yang meminta-minta gedung konser khusus kepada pemerintah agaknya harus ditinjau ulang atau setidaknya ditambah dengan tuntutan pembangunan infrastruktur yang merakyat untuk akses jaringan 5G.

Namun yang paling penting dari segalanya adalah tentu saja bagaimana spirit-spirit yang terbangun dan sudah menghidupkan ranah musik ini sepanjang tiga dekade, masih terus hadir dan terus terwariskan secara utuh. Pemahaman mengenai disrupsi budaya dan teknologi mutlak harus dikuasai oleh para penggiat musik ekstrim dan seharusnya ini tidak menjadi sulit mengingat sejauh ini ranah musik sudah mampu beradaptasi dengan membangun eksosistem sendiri. Revitalisasi ruang-ruang konservasi musik juga secara serius harus dikelola. Berbagai strategi masa depan seharusnya keluar dari ruang-ruang ini karena dari sinilah sejarah digali, dipetakan, dan disusun ulang untuk bertahan hingga masa waktu yang sama dengan tonggak kesepakatan dari awal sejarah tertulis hingga masa kini. Peran media sekali lagi menjadi vital dalam menyampaikan berbagai dinamika ini kepada ranah musik yang luas.

Pada akhirnya, gelora bagaimana pun tetaplah gelora. Baik di ruang-ruang pertunjukan ramai dengan manusia, mau pun di ruang-ruang maya dengan segala kesederhanaan dan privatisasinya, ia tetap mengguligah dan membakar. Ia lah spirit burung Phoenix yang membakar diri untuk melahirkan Phoenix yang baru, di zaman yang baru, dengan pola yang baru, cara berpikir yang baru, dan tentu saja manusia-manusia yang baru.

Gelora selamanya para pionir \m/

//kimun666