Loading
Play
Extreme Radio Show
Play
Extreme Radio Show

GELORA SAPARUA : URGENSI JEJARING DATA

Sebagai bocah SMA yang tengah duduk di bangku kelas dua, Alvin Yunata mengenang kali pertama ia hadir di Saparua. Kala itu Pure Saturday, Full of Hate, Anti Septic, Hellburger dan berbagai band lainnya riuh meramaikan gelaran Hullabaloo I pada 25 September 1994. Dengan luasnya cakupan jenis musik yang dihadirkan oleh 20 line up penampil, Alvin mengaku terkesima dengan riuhnya campur baur ini. Berkat geliat gelaran yang kian bersemarak hingga akhir abad ke 20, Saparua telah mewarnai masa remaja Alvin Yunata. Tanpa pengalaman tersebut, ia tak yakin akan menjadi dirinya kini dengan berbagai aktivitasnya di Irama Nusantara maupun sebagai gitaris Teenage Death Star. 

Saparua tak hanya kenangan bagi Alvin semata. Menjadi titik temu bagi berbagai pihak dari generasi ke generasi, ada jutaan pasang mata lainnya yang turut merekam Saparua dan membangun asosiasi yang melekat pada  ruang tersebut. Dengan geliat panjang sebagai gelanggang pertunjukkan musik dan budaya pemuda sejak medio 1970an, secara berkala kegiatan tersebut mengumpulkan banyak orang sehingga membangun memoar yang kuat terhadap Saparua. Dengan cara yang sama, Alvin Yunata bersama timnya mengumpulkan kesaksian-kesaksian ini dalam membangun dokumenter Gelora Saparua.

Pada proses penggarapannya, dokumenter ini melibatkan berbagai narasumber seperti Sam Bimbo, Arian13 (Vokalis Seringai), Eben (Gitaris Burgerkill), Wendi Putranto (manajer Seringai), Suar (ex Vokalis Pure Saturday), Candil (ex vokalis Seurieus), Buluks (Superglad, Kausa), Idhar Resmadi (jurnalis musik) dan lain sebagainya yang notabene pada masanya bertindak sebagai salah satu pelaku Saparua. Dalam penelusuran kesaksian ini, Alvin dan timnya pun melakukan upaya pembangunan jejaring data guna mengumpulkan dokumentasi-dokumentasi terkait yang selama ini tercacar.

Berangkat dari berbagai upaya reservasi dan dokumenter yang tengah ia garap, Alvin memandang pentingnya kehadiran jejaring data ini untuk hadir dalam ekosistem musik Indonesia. Dengan berbagai kesulitan yang dirasakan dalam upaya pengumpulan data, jejaring yang merupa katalog ini tentu akan banyak mempermudah. 

“Paling nggak pendataan, jadi udah tau (foto) ini punya siapa, ini punya siapa. Misal gambar yang ada di YouTube ini punya si A, kalau mau ngehubungin nih kontaknya. Paling nggak itu kesusun aja dulu.” Saut Alvin kala diwawancarai seusai konferensi pers Gelora Saparua. Jauh-jauh sebelumnya ia tengah mengenang mimpi buruk pengarsipan bangsa ini yang acapkali ia gaungkan. Melalui inisiasi program ini, upaya penjaringan dokumentasi ini menemukan batu tonggaknya untuk memulai gerakannya.

Lebih lanjut Lance Mengong selaku pengembangan produksi dan ekosistem DistorsiKERAS menuturkan perihal program jejaring yang tengah ia jalankan. Selaras dengan yang Alvin idamkan, program ini berupaya menanggulangi hal tersebut dengan membangun sebuah sistem terpadu untuk menghimpun data-data yang tercecer agar dapat tercatat dengan baik. Dalam membangun database ini kemudian dibutuhkan adanya integrasi antar organ maupun perorangan yang telah lebih dulu menata dokumentasi maupun kekayaan intelektual dalam skala mereka masing-masing. Dengan terbentuknya integrasi dari dokumentasi berbagai sektor, mulai dari produksi hingga distribusi, jejaring tersebut dapat membangun kanal yang menambah nilai dari serpihan-serpihan data yang selama ini tercecer. 

Kesadaran atas pentingnya dokumentasi memang telah tumbuh pada ekosistem musik sejak jauh-jauh hari, namun upaya tersebut masih dilakukan secara sporadis dan umumnya berlandas pada kepentingan pribadi maupun kelompok. Di tengah suburnya kesadaran ini, upaya pengarsipan yang memadai dan menyeluruh belum berhasil tercapai guna mengelola suburnya data dokumentasi. Walhasil sebagaimana kendala yang dihadapi Alvin dalam dokumenter Saparua ini, perlu tenaga lebih untuk kembali menggali data-data tersebut. 

Dalam kancah musik keras modern, Saparua tepat berdiri sebagai simpul yang mempertemukan berbagai kelompok yang kini berkembang dan mengakar. Kiranya itu pula yang membuat program ini meletakan batu pertamanya pada Saparua untuk mulai membangun jejaring ini. Saparua yang mewakili semangat kolektivitas nyatanya belum usai menyisakan gelora. Setelah sekian lama tak lagi bergemuruh, ia masih menyisakan getar yang memanggil kita untuk kembali saling rangkul dan bergerak bersama.