Loading
Play
Extreme Radio Show
Play
Extreme Radio Show

GELORA SAPARUA SEBAGAI MONUMEN MUSIK NASIONAL

Pada 2021 ini, Gelora Saparua telah menginjak umurnya yang 50 tahun terhitung sejak pertama kali didirikan pada 1961 atas kebutuhan PON ke 5 pada 1961. Dengan usia yang telah mencapai setengah abad, Gelora Saparua telah berhak untuk dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya yang akan memberikan kesempatan untuk merevitalisasi gedung tersebut. 

Ridwan Hutagalung dalam dokumenter Gelora Saparua yang diluncurkan di Bandung pada Senin, 7 Juni 2021 menuturkan bahwa ada 4 syarat untuk menyatakan sebuah bangunan sebagai cagar budaya, yakni; 

  1. Benda, bangunan atau struktur tersebut setidaknya telah berusia 50 tahun atau lebih.
  2. Mewakili masa gaya (arsitektur) pada periode tertentu.
  3. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan.
  4. Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian daerah dan bangsa.

Keempat persyaratan ini setidak-tidaknya telah mampu dipenuhi oleh Gelora Saparua untuk menjadi alasan untuk menyatakan bangunan ini sebagai cagar budaya. Dokumenter Gelora Saparua yang Alvin Yunata garap telah membuktikan aspek-aspek ini dalam satu jam delapan menit durasi film tersebut.

Sebagai bangunan, Gelora Saparua mewakili gaya arsitektur Jengki yang populer pada periode 60-70an di Indonesia. Gaya Jengki merupakan bentuk arsitektural modernist pasca perang dunia kedua yang kental menolak bentuk-bentuk kubikal dengan atap dan fasad yang asimetris. Jengki yang berasal dari kata Yankee berkonotasi pada orang-orang yang berasal dari Amerika, gaya ini terpengaruh oleh interpretasi tropis atas gaya Googie nan futuris khas Amerika. Dengan denah bangunan yang berbentuk segi-enam juga ornamen tiang lengkung yang menghiasi pintu masuknya, Gelora Saparua jelas mengadopsi gaya yang populer digunakan pada periode ia di bangun.

Tak hanya secara bangunan, Gelora Saparua pun mewakili budaya populer yang berkembang dari waktu-ke-waktu berkat pemanfaatannya sebagai gedung pertunjukan. Dalam dokumenter Gelora Saparua dapat kita saksikan bersama bagaimana Saparua mewadahi budaya-budaya populer mulai dari pertunjukkan musik keroncong, periode rock n roll, hingga musik Underground yang berkembang pada paruh 90an. Kesaksian-kesaksian juga catatan yang Alvin kumpulkan sepanjang penggarapan dokumenter tersebut menunjukkan budaya pemuda yang terus berubah di bawah naungan gedung tersebut.

Saparua telah menjadi saksi atas berbagai resistensi yang dilakukan budaya pemuda terhadap hegemoni nilai yang mendominasi melalui musik yang mereka gaungkan. Sejak masih merupa lapang, Saparua telah memberi tempat pada musik keroncong yang awalnya distigmakan buruk, musik ngak-ngek-ngok yang direpresi oleh pemerintahan orde lama hingga musik underground yang turut dikecam pada periode reformasi. Dari sepak terjang yang begitu panjang, Gelora Saparua menjadi monumen penting atas perubahan-perubahan dalam identitas musik yang digandrungi oleh kaum muda. Coba bayangkan betapa banyaknya musisi-musisi berpengaruh yang menitikan karirnya pada gedung ini, mulai dari nama-nama yang hari ini kita kenal seperti Seringai, Burgerkill, Rocket Rockers hingga yang lahir pada periode-periode sebelumnya seperti Giant Step, Eka Sapta, Aneka Nada dan banyak lainnya sempat mencicipi panggung Saparua yang Benny Soebardja sebut sebagai kawah candradimuka bagi band-band tenar. Akibatnya, tak berlebihan kiranya apabila Gelora Saparua disebut sebagai monumen bagi perjalanan musik bangsa ini.

Dengan posisi yang dimiliki Gelora Saparua, saya rasa penting dilakukan sebuah upaya konservasi untuk mencegah kerusakan yang berakibat pada hilangnya nilai-nilai sejarah yang dimiliki bangunan tersebut. Lebih dari itu, potensi ekonomi kreatif yang dimiliki Saparua tak dapat dianggap sepele, terlebih dengan posisinya yang hadir di antara banyak generasi. Berdiri di tengah-tengah kota yang mencap dirinya sebagai kota kreatif, kiranya akan sangat memalukan apabila Bandung kehilangan monumen ini pasca dirinya ditetapkan sebagai jaringan kota kreatif oleh UNESCO.

Di tengah krisis ruang kreatif yang merebak di Kota Bandung, revitalisasi Gelora Saparua dapat menjadi solusi untuk memberikan kesempatan bagi generasi berikutnya untuk terus mengembangan identitas kreatif yang kota ini miliki. Sementara janji-janji atas ruang pertunjukan yang baru tak kunjung terpenuhi, kebijakan untuk mengelola kembali Gelora Saparua dengan visi yang baru dapat menjadi jalan yang bijak untuk memenuhi kebutuhan ini. Dengan potensi yang dimiliki, ada banyak kemungkinan yang menjadi jalan untuk memberdayakan kembali Gelora Saparua. Berkat nilai sejarah yang dimiliki Ia dapat dibentuk sebagai museum yang menuturkan perjalanan musik tanah air, menjadi ruang pengembangan dan aktivitas sosial sebagaimana telah dimanfaatkan selama krisis pandemi ini, maupun kembali menjadi ruang pertunjukan sebagaimana kita idam-idamkan.

Setelah 20 tahun kering dari pertunjukan-pertunjukan yang dahulu senantiasa mewarnai perjalanan Gelora Saparua, upaya monumentalisasi ini dapat menjadi jalan untuk mengembalikan marwah Gelora Saparua sebagai wadah untuk kita kembali berjalan beriringan.

Author by Boris