Loading
Play
Extreme Radio Show
Play
Extreme Radio Show

GELORA SAPARUA 1970s : UNDERGROUND MBELING!

Jaarbeurs pertama kali diselenggarakan selama hampir sebulan lamanya dari tanggal 17 Mei sampai dengan 5 Juni 1920.  Usai itu, Jaarbeurs telah mengundang wisatawan, sehingga daya tarik kota Bandung makin bertambah. Pada tahun ke tiga gelarannya,  Tentara dan Angkatan Laut Belanda mengambil bagian dengan memamerkan kekuatan militer udaranya. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan membentuk dinas pos selama pameran berlangsung yang menghubungkan Bandung-Batavia pergi pulang dengan satu penerbangan. Walau namanya dinas pos, akan tetapi yang diangkut bukan hanya barang-barang kiriman pos, akan tetapi juga mengangkut penumpang.

Berkat penyelengraan bursa tahunan itu, daya tarik kota Bandung bertambah sehingga  kebanjiran wisatawan. Mereka bukan hanya berasal dari kota-kota besar di Hindia Belanda, akan tetapi tidak sedikit yang datang dari Negeri Belanda. Walau sejak 1922 di Surabaya diselenggarakan kegiatan serupa, namun hal itu tidak mengurangi minat wisatawan berkunjung ke Bandung. Terbukti ketika pertama kali dibuka, pengunjung Jaarbeurs sudah mencapai 60.000 orang. Bahkan pada tahun-tahun berikutnya, kunjungan itu terus meningkat, sehingga selama Jaarbeurs digelar pada tahun 1929 tercatat tidak kurang dari 226.000 pengunjung.

Akan tetapi  kegiatan yang ikut mengharumkan nama kota Bandung itu hanya bisa diselenggarakan sebanyak 21 kali. Ketika kekuasaan beralih, Jepang menutup semua kegiatan yang berbau Belanda. Kegiatan Jaarbeurs yang terakhir berlangsung dari tanggal 28 Juni – 13 Juli 1941.

Gedung Jaarbeurs digunakan sebagai kegiatan militer Republik Indonesia untuk pertama kalinya ketika ditempati sebagai Markas Detasemen Polisi Militer dipimpin Aboeng Koesman dan Kesatuan Detasemen Markas Kodam III/Siliwangi dipimpin Letnan I Subrata. Saat itu, anggota Detasemen Polisi Militer yang berjumlah sekitar 90 orang hanya dilengkapi persenjataan sekitar sepuluh pistol dan beberapa bayonet.

Di Indonesia sendiri sepanjang tahun 1950an dan 1960an digelar banyak sekali program pembangunan terutama sarana-sarana fisik. Pembangunan ini dilakukan bukan hanya sebagai respon atas perkembangan sosial masyarakat, namun juga secara politik merupakan upaya memperlihatkan wajah baru Indonesia yang modern kepada dunia. Usai Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games dan Games of the New Forces (Ganefo) tahun 1963, gairah olahraga menjadi salah satu arus utama yang diperhatikan pemerintah. Tahun 1969 pemerintah membangun Gelanggang Olah Raga (Gelora) Saparua yang berfungsi sebagai tempat pertandingan tinju. Gelora ini berkembangan dengan pesat. Tak hanya tinju, Gelora ini juga segera menjadi pusat olahraga masyarakat Kota Bandung, dari badminton, bola voli, dan olahraga lainnya. Banyaknya pemuda-pemuda yang berkumpul di kawasan ini membuat perlahan Gedung ini juga berfungsi sebagai pusat kepemudaan, terutama di bidang seni dan budaya. Gelora perlahan mewujud menjadi ruang kreasi ketika ia terbuka untuk pertunjukan musik dan kesenian lainnya.

Pada saat itu, di Indonesia musik yang berkembang dengan pesat di kalangan pemuda adalah musik rock. Menurut Denny Sakrie, embrio musik Rock di negara ini dimulai pada 1967-1970 ketika gerakan budaya tandingan (counter-culture) yang digagas oleh Generasi Bunga asal Amerika Serikat dan Inggris menyebarkan pesan-pesan perdamaian melalui musik— dengan slogan Summer of Love ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Sejak saat itu, bermunculan kantong-kantong musik Rock di berbagai kota, seperti Medan, Jakarta, Surabaya, dan Bandung yang menjadi kiblat musik Rock di Indonesia.

Penyematan status itu bukan tanpa alasan. Pasalnya di Kota Kembang bermunculan puluhan musisi dan grup musik Rock lokal yang berkualitas. Bahkan, Rollies dan Giant Step memiliki pengaruh besar di ranah musik ini bersama God Bless dan Apotek Kali Asin (AKA). Hal yang menarik, berbeda dengan grup-grup musik tenar pada masa itu yang gandrung membawakan lagu-lagu kelompok musik Barat, seperti The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, dan Grand Funk Railroad, Giant Step justru kerap membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri yang direfleksikan pada ketujuh album mereka yang dirilis antara 1975-1985 dan mengukuhkan warna rock progresif pada grup musik ini.  Sejatinya, asal-usul sub-aliran ini merujuk pada sekelompok grup musik asal Inggris yang berupaya meningkatkan aspek krededibelitas artistik musik Rock dengan menambahkan elemen-elemen musik lain, seperti Jazz dan Classic. Di Indonesia, sepanjang 1970-an kekhasan aliran Rock Progresif terletak pada perpaduannya dengan insturmen musik tradisional—seperti gamelan, calung, dan angklung—dan bahasa lokal (Sakrie, 2015 : 56).

Selain itu, pada era yang sama terdapat pula sub-aliran Rock Underground yang dipelopori oleh grup musik God Bless, Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS(Surabaya), Bentoel (Malang) dan Rawe Rontek (Banten). Menurut Remy Syalado, pada pertengahan 1970 muncul istilah rancu gron yang merujuk pada musik Rock yang keras dan ritmik. Namun kala itu, tak sedikit sebutan itu disematkan pula pada aliran-aliran lain yang dimainkan dengan amplifier berdaya besar. Lebih lanjut, karena begitu populer, kemudian muncul istilah turunan Gronisme yang sebenarnya mengacu pada kata underground. Terlepas dari itu, sub-aliran Rock Underground mengacu pada grup-grup musik yang menyajikan musik keras dengan gaya yang liar dan ekstrim untuk ukuran zamannya, walaupun kebanyakan masih membawa lagu-lagu milik grup musik asing. Istilah ini pertamakali dipakai pada awal 1970-an dan dipopulerkan oleh majalah musik legendaris asal Bandung, Aktuil.

Majalah Aktuil juga merupakan entitas penting penanda zaman ini. Aktuil didirikan oleh trio Bob Avianto, Denny Sabri, dan Toto Raharjo. Majalah ini terbit perdana pada 8 Juni 1967 dengan tiras 5.000 eksemplar dan habis dalam waktu kurang dari seminggu. Awalnya Aktuil memuat artikel-artikel terjemahan media sejenis asal luar negeri. Namun sejak 1969, Sonny Suriaatmadja menghadirkan tulisan-tulisan seputar kaum hippies, mulai dari sistem sosial, landasan ideologis, busana, seks, hingga mariyuana.

Selain itu, Remy Syalado yang baru direkrut juga menyuntikan unsur sastra melalui, puisi mbeling dan cerita bersambung bertajuk Orexas (Organisasi Seks Bebas). Sementara Maman Husen Somantri yang mengurusi masalah desain juga mengusulkan pemberian pernak-pernik, seperti gambar tempel, poster, dan gambar seterikaan. Terobosan-terbosan ini berhasil meningkatkan oplah Aktuil secara drastic hingga mencapai 30.000 eksemplar per bulan pada 1970. Saat ukuran majalah diperbesar, oplahnya ikut meningkat hingga 126.000 eksemplar antara tahun 1973 dan 1974. Propaganda itu mencampai titik kulminasinya ketika majalah ini menghadirkan kelompok musik Rock dunia, Deep Purple di Jakarta pada 5-6 Desember 1975 yang menyedot 150.000 penonton. Aktuil juga dianggap berkontribusi nyata dalam mengangkat para musisi dan grup rock asal Bandung. Harry Roesli, Bimbo, Superkid, dan The Rollies hanya segelintir nama yang berhasil diotbitkan oleh majalah ini.

Media lainnya yang lahir pada masa ini adalah Radio GMR (Generasi Muda Radio). Didirikan oleh Erwin Sitompul tahun 1967 dengan nama Young Generation (YG), radio ini secara fokus memutarkan musik-musik rock. Secara personal, pendirinya memiliki kedekatan dengan Iwan Rollies, yang ikut menyediakan koleksi lagu-lagu Rock untuk radio ini. Selain itu, melalui corong YG berfrekuensi 1368 Khz/Am, para musisi dan grup musik lokal, seperti The Rollies, Deddy Stanzah, Freedom of Rhapsodia, Superkid, Giant Step dan Shark Move diperkenalkan pada khalayak.

Radio YG kerap menggelar konser di Gelora Saparua, bertajuk “Tembang Pribumi” dengan melibatkan musisi dan grup musik, seperti Cockpit, Vina Panduwinata, Utha Likumahua,  dan Edi Endoh.  Selain itu, Radio YG juga mengelar acara yang khusus membawakan lagu-lagu Rolling Stones dengan mengundang grup Acid Speed (Jakarta) dan ditonton oleh para Stone Lovers. Kiprah radio YG, baik di udara maupun darat menjadi momentum awal yang membentuk basis pendengar yang fanatik. Tahun 1971 Radio YG mulai berbadan hukum dengan nama PT Radio Generasi Muda pada 1971.

Pada masa ini berdiri satu band besar tanah air, God Bless. Tanggal 16 Agustus 1973 God Bless menjadi salah satu band rock yang mendapat sorotan dalam festival Summer ’28 yang berlangsung di sebuah lahan milik Inter Studio Film di kawasan Ragunan Pasar Minggu. Summer ’28 yang merupakan akronim dari Suasana Menjelang Kemerdekaan RI ke 28 itu memang seperti ingin meniru gerakan Summer of Love di belahan barat sana yang menghasilkan Monterey Pop Festival pada tahun 1967 dan Woodstock Music Festival pada tahun 1969. Dengan didukung Deddy Dorres pemain keyboard dari Freedom Of Rhapsodia asal Bandung, God Bless semakin berkibar. Pemain keyboard sebelumnya, Yockie Surjoprajogo, mengundurkan diri dan bergabung dengan band Bandung Giant Step bersama Benny Soebardja. Formasi ini diteguhkan dengan menggelar konser perdana mereka Agustus 1973 di Gelora Saparua. Dalam konser ini, God Bless juga menghadirkan Gang Of Harry Roesli dari Bandung serta band Bentoel dari Malang. Keterikatan God Bless berlanjut ketika Soman Lubis, pemain keyboard The Peels dan Sharkmove, masuk God Bless menggantikan Deddy Dores. Selain nama-nama tersebut, Gelora Saparua juga mewarnai band-band besar lain di Indonesia masa itu seperti Rollies, Apotek Kali Asin (AKA), Gypsy (Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS(Surabaya), Bentoel (Malang) dan Rawe Rontek (Banten).

Gelombang band ini berbeda dengan band-band pada umumnya yang gandrung membawakan lagu-lagu The Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, Grand Funk Railroad, dan lainnya. Mereka sudah membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri yang cenderung mengukuhkan warna musik rock progresif. Namun berbeda dengan rock progresif di belahan negara asalnya, di Indonesia rock progresif masa ini tampil dengan perpaduannya bersama insturmen musik tradisional seperti gamelan, calung, angklung, dan bahasa lokal. Menurut Remy Syalado, pada masa ini muncul istilah rancu gron yang merujuk pada musik rock yang keras dan ritmik. Namun kala itu, tak sedikit sebutan itu disematkan pula pada aliran-aliran lain yang dimainkan dengan amplifier berdaya besar. Lebih lanjut, karena begitu populer, kemudian muncul istilah turunan Gronisme yang sebenarnya mengacu pada kata underground. Terlepas dari itu, sub-aliran Rock Underground mengacu pada grup-grup musik yang menyajikan musik keras dengan gaya yang liar dan ekstrim untuk ukuran zamannya, walaupun kebanyakan masih membawa lagu-lagu milik grup musik asing. Underground dipakai pertama kali awal 1970-an oleh majalah Aktuil.

Tah hanya musik-musik popular yang bergaya “Barat”, Gelora Saparua terbuka untuk berbagai musik secara umum, termasuk musik-musik rakyat, tercatat, tahun 1978, di Gelora Saparua digelar pergelaran Genjring Bonyok asal Kampung Bonyok, Subang. Genjring Bonyok memainkan alat musik bedug dan genjring, merupakan perkembangan dari kesenian Genjring Rudat. Bersanding dengan Genjring Bonyok juga berkembang kendang penca, ketuk tilu, dan wayang golek. Selain tampil di Gelora Saparua, sebelumnya Genjring Bonyok juga tampil di Gedung Rumentang Siang Bandung tahun 1971, serta menggelar Festival Genjring Bonyok se-Jawa Barat yang di ikuti oleh 24 grup tahun 1977.

Memasuki, era 1980-an, selain gelombang musik rock progresif yang berangkat dari satu era sebelumnya, Gelora Saparua juga diramaikan oleh gelombang fussion jazz baru seperti Fariz RM, Vina Panduwinata, dan Cockpit. Band ini terkenal membawakan repertoire Genesis dan pernah menggelar konser Gelora Saparua pada 15 Januari 1984. Pada era ini juga, Gelora Saparua semakin mewujud sebagai salah satu tempat bergengsi untuk mengadakan acara pentas seni sekolah di Bandung.

Di masa yang sama, Selama lebih dari duapuluh tahun, ketika tren musik mulai berganti, Radio YG tetap bertahan dan terus mengudara. Ketika Radio YG beralih ke frekuensi modulasi (FM) yang menawarkan kualitas suara yang lebih baik tahun 1990an, pemerintah mewajibkan radio-radio swasta menggunakan nama dalam bahasa Indonesia. Sejak saat itu, nama radio ini beralih menjadi Radio Generasi Muda atau GMR FM dengan frekuensi 104,4 Mhz. Radio menyajikan lagu-lagu blues, slow rock, classic rock, art/progressive rock, hard rock, heavy metal, speed metal, trash metal, dan death metal. Bisa dikatakan, musik yang diputar di GMR FM merupakan representasi musik yang secara live digelar di Gelora Saparua pada masa itu.

BERSAMBUNG

@KIMUN666