Loading
Play
Extreme Radio Show
Play
Extreme Radio Show

GELORA: MAGNUMENTARY OF GEDUNG SAPARUA FILM SCREENING ” KUIL ROCK AND ROLL BANDUNG”

Satu buah arsip penting akhirnya bertelur. Apalagi bagi kancah musik Indonesia, khususnya Bandung. Satu cagar budaya populer ditangkupi dalam bentuk audio visual, dalam hal ini film dokumenter. Adalah satu nama yang pernah bergelut bahkan terjun di kawah tersebut, yakni Alvin Yunata. Dirinya seperti yang diketahui pernah memegang tonggak Harapan Jaya, kemudian Teenage Death Star dan kini aktif memegang kendali mengumpulkan arsip musik Indonesia bersama Irama Nusantara. Alvin merupakan sosok yang memprakarsai film bertajuk ‘Gelora Magnumentary Gedung Saparua’. Bersama para koleganya di satu gerbong Hazed TV dan beberapa nama seperti Edy ‘Khemod’ Susanto dari Cerahati Artwork, mereka dengan tuntas menyelesaikan satu alur cerita akan bangunan Gedung Saparua ,meski harus memakan waktu mepet tiga bulan.


Dokumenter berdurasi 1 jam 8 menit ini akhirnya berhasil dipertontonkan secara premier di layar lebar. Ahad (6/6) kemarin, bersama gerombolan payung Rich Music Online dan Distorsi Keras, film tersebut resmi tayang di Jakarta, tepatnya di CGV Grand Indonesia. Sehari berselang, Senin (7/6) gala premier dilangsungkan di kota gedung Saparua kokoh berdiri, Bandung dan bertempat di CGV, Paris Van Java. Sedari siang, teras bioskop sudah disesaki massa yang merupakan tamu undangan, mulai dari pegiat kancah musik Bandung, awak media hingga tokoh pegiat subkultur seperti penggawa distro hingga skateboarder.
Selain mempersiapkan film, bioskop disulap terlebih dahulu menjadi panggung musik dengan pelbagai sound system dan piranti-pirantinya. Karena dalam film ‘Gelora Magnumentary Gedung Saparua’ ini sedikit banyak membahas akan pergerakan musik, maka dari itu penonton disuguhi terlebih dahulu pertunjukan dari dua ikon musik rock Bandung, yaitu Koil dan /RIF. Mereka memberi aksi yang impresif dan tanpa beban, apalagi Koil yang bersemangat baru saja merilis kumpulan single-single baru mereka bertajuk ‘First Installment – A Tribute to Pink Floyd’ dan ‘Second Installment’. Begitu riuhnya di dalam bioskop, karena semua orang pastinya merindukan konser dengan kualitas mumpun di masa pandemi seperti ini, terlebih banyak konser berformat virtual menyebar dimana-mana selama ini.


Selepas itu, akhirnya film tersebut diputar dengan kualitas yang begitu baik untuk ukuran genre dokumenter. Sangat aman. Walau secara kacamata arsip sempat diakui Alvin tidak semua bernas maupun elok, karena data yang didapat begitu terbatas. Namun pesan termakhtub dengan semestinya. Dari bagaimana area kompleks Saparua terbentuk. Sebagai awal dari basis militer di zaman Hindia Belanda, menjadi pusat karnaval dan seliweran bebunyian keroncong, terbentuknya proto rock and roll bagi kancah musik era 60-an, keliaran shock rock Nusantara di 70, semarak festival rock, kandang bazaar atau pensi beberapa SMA Bandung hingga menyeruaknya kancah arus pinggir yang mengadopsi counter-culture dengan sangat taat.


Bila mencatut satu kutipan dari narasi tersebut dengan bunyi yang hampir serupa, “Kuil rock and roll yang tercipta di satu kota yang memang sudah dibentuk sedemekian rupa dibentuk bakal menyerap budaya luar dengan khusyuk dan tepat.”


Beberapa tokoh penting dihadirkan sebagai narasumber bahkan saksi hidup yang pernah bersinggungan dengan gedung Saparua. Sebut saja Dadan ‘Ketu’ Ruskandar, Jaja Subagja (Alm), Ebenz (Burgerkill), Candil (Seurieus), Arian Arifin (Ex-Puppen, Seringai), Suar Nasution (Ex-Pure Saturday), Dina Dellyana (HMGNC), Idhar Resmadi (pemerhati subkultur Bandung), Wendi Putranto (Brainwashed, manajer Seringai), Samack (Mindblast) dan dua tokoh yang memang terlibat di kolam data maupun sejarah Bandung, Ridwan Hutagalung (Komunitas Aleut) sekaligus Aji Bimarsono (Bandung Heritage). Screening berjalan begitu sangat tertib.Fokusnya tertanam. Mungkin daya magis Saparua bagi yang merasakan hingga yang belum tahu atau belum tersentuh mengalir di setiap kepala yang menontonnya. Semua seakan-akan terpukau dengan isian filmnya. Subliminasi pemikiran pun mengelilingi kepala.
Ini adalah satu pesan yang bermakna besar. Meski Gedung Saparua kini tak tahu apakah ada rencana revitalisasi kembali, ini menjadi alarm bagi generasi kancah hari ini. Diberi satu pola pikir guna seyogyanya bisa seperti era tersebut, khususnya 90-an atau dengan kecanggihan teknologj yang ada sekarang, bahkan memuat ekosistem kancah lebih mengalir hidup dan nadi-nadinya kian dinamis, lebih dari zaman ketika di film perlihatkan. Kancah tidak pernah mati, selalu (dan semua) adalah juruselamatnya!

Author by Karel