Loading
Play
Extreme Radio Show
Play
Extreme Radio Show

GELORA-GELORA YANG LAIN

GOR Saparua, Ruang Inisiatif, hingga Virtual Concert

Sejak 1990an hingga satu dekade selanjutnya, Saparua kemudian menjadi satu ikon kuat yang membesarkan komunitas musik bawahtanah Bandung dan Indonesia. Tercatat, hingga pertengahan 2000an Indonesia tergolong lima besar negara yang memiliki komunitas bawahtanah terbesar di dunia. Di Bandung sendiri, jumlah metalhead dan penggemar musik ekstrim mencapai 25.000, setara dengan 1,4% warga Kota Bandung pada saat itu. Tak hanya itu, ranah musik ini menyumbangkan sangat besar bagi gairah ekonomi kreatif Kota Bandung selain tentu saja aspek-aspek lain terkait ilmu pengetahuan, teknologi, dan media.

Namun demikian perkembangan ini tidak berbanding lurus dengan perhatian para pemangku kekuasaan yang menaungi Saparua. Sejak awal 2000an perijinan untuk menggelar konser atau festival di Gelora Saparua semakin sulit dan akhirnya tahun 2003, Gelora Saparua tidak bisa lagi digunakan untuk gelaran musik.

Akhirnya kita bisa membendung arus, namun siapa yang bisa membendung gelombang?

Kebuntuan ini tak lantas pergerakan musik bawahtanah berhenti. Para penggiat musik ini terutama yang fokus menggelar gigs, konser, dan festival kemudian mencari berbagai ruang alternatif untuk menggelar musik. Yang paling penting tentu saja pergerakan studio show yang banyak digelar untuk pertunjukan skala kecil namun marak dan intens. Studio show di Jalan Garuda, Ciroyom, Studio Glory Buahbatu, dan studio-studio lainnya menyumbangkan gairah yang luar biasa pasca pelarangan Gelora Saparua. Gelaran-gelaran studio show ini melahirkan band-band bagus yang kemudian mewarnai musik ektrim antara tahun 2005 hingga 2008.

Tak hanya gelaran gigs skala studio, pergelaran juga merambah ruang-ruang inisiatif yang bergerak di ranah literasi dan merchandising. Masa ini tentu saja kita angkat topi bagi IF Venue, Ultimus, Tobucil dan Bandung Center For New Media Art yang kemudian bertransformasi menjadi Common Room, Rumah Buku, Omuniuum, Lou Belle, dan ruang-ruang lainnya di ranah literasi yang secara konsisten menyediakan ruangnya untuk menampung gairah pengembangan musik bawahtanah Bandung. Tak hanya itu, sinergi juga dilakukan dengan pihak kampus yang memiliki program berkala bagi seni dan kolaborasinya, terutama dengan musik. Patut dicatat, Itenas, Unpad, Unpas, Unpar, ISBI, ITB, dan juga perguruan-perguruan tinggi lain yang menjadi titik didih pergerakan musik bawahtanah.

Beberapa venue besar juga menjadi panasea bagi kritisnya kondisi venue di Kota Bandung. Pada masa awal pelarangan Gelora Saparua, teater terbuka dan teater tertutup Taman Budaya Dago atau Dago Tea Huis sempat menjadi pilihan. Teater Tertutup Dago Tea House menjadi salah satu venue musik dengan intensitas acara yang sangat padat. Tidak ada spesifikasi khusus untuk mereka yang ingin mengadakan acara disini, baik aliran musik metal hingga pop, acara komunitas atau sekolah, selama berhubungan dengan seni dan budaya, tempat ini menjadi fasilitas yang saat itu paling diminati. Tempat ini menjadi saksi bisu pergerakan musik independen, khususnya Kota Bandung. Banyak sekali gigs dan festival musik bawahtanah di gelar di sini. Namun, berubahnya kebijakan pengelola ditambah mahalnya harga sewa membuat fasilitas ini perlahan ditinggalkan.

Beberapa venue lain sempat dijajal para penggiat gigs dan festival musik bawahtanah Bandung. Gedung Asia Africa Culture Center (AACC), Gedung YPK Naripan, Gedung Dezon, Gedung Parahyangan Plaza, hingga kafe Laga Asia Afrika, TRL, hingga Classic Rock Trunojoyo. Di antara Gedung-gedung tersebut, Gedung Asia Africa Cultural Center merupakan primadona. Gedung ini adalah salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. Dibangun tahun 1920an sebagai bioskop bernama Concordia Bioscoop, Gedung ini direvitalisasi tahun 2002 dan berubah nama menjadi Gedung AACC. Di sinilah gigs dan festival musik bawahtanah juga marak digelar. Walau dengan kapasitas terbatas, sekitar 700 orang, namun dengan intensitas dan rapatnya ragam acara membuat ranah musik di sini lebih hidup.

Venue lainnya yang menjadi favorit adalah Auditorium IFI Bandung. Institut Français D’indonésie sebenarnya merupakan lebaga kebudayaan Prancis yang berada di Indonesia. Di Bandung, letaknya di Jalan Purnawarman dan sejak 1990an menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan musik bawahtanah Bandung, terutama di ranah musik grunge. Di sini banyak sekali pergelaran legendaris yang digelar tahun 1990an, salah satunya adalah Grunge Is Dead. Pada masa-masa selanjutnya, IFI menunjukkan konsistensi dukungan yang luar biasa bagi perkembangan musik bawahtanah Bandung. Selain menyediakan ruang yang terjangkau, mereka juga secara aktif mempublikasikan semua aktivitas yang digelar. banyak sekali konser, gigs, festival kecil, pameran, serta ragam pergelaran lain yang digelar di sini. Hingga hari ini Auditorium IFI tetap menjadi salah satu favorit pergelaran musik bawahtanah Bandung.

Salah satu venue yang penting dan sempat menjadi favorit pergelaran musik serta produksi audio visual musik adalah Spasial. Berada di Gudang Selatan 22, ruang ini merupakan gubahan gedung-gedung tua bekas gudang senjata dan kemudian ditata ulang. Banyak aktifitas kreatif dan produktif digelar Spasial, mulai dari pameran karya seni, pemutaran film, konser musik, hingga bazaar. Selain menjadi wadah kreatif anak muda, Spasial juga memberikan ruang untuk para entrepreneur. Kita juga bisa menemukan distro, barber shop, hingga coffee shop, selain tentu saja ruang Spasial sendiri yang nyaman untuk sekedar nongkrong dan berbincang. Sayang kini Spasial pun sudah tutup.

Hingga saat ini Bandung memang belum memiliki gedung yang secara khusus digunakan sebagai ruang aktivitas musik, terutama ruang gelaran konser, gigs, dan festival; mau pun ruang yang disediakan khusus sebagai konservatorium musik Bandung, termasuk pengelolaan data-data dan arisp-arsip sejarah musik Bandung. Ini tentu sangat disayangkan mengingat betapa besar ekonomi kreatif, terutama musik dan berbagai sinergitasnya, sudah membangun kota ini, memberinya “wajah”, minimal dalam kurun waktu 30 tahun terakhir.

Generasi baru lahir seiring dengan pola-pola baru yang tercipta, ruang-ruang baru yang terbangun, titik-titik lain yang saling melengkapi jejaring. Perkembangan pergelaran menuju multimedia, virtual dan berbasiskan kepada internet pun memicu berkembangnya kebutuhan pergeraran atas venue. Venue-venue akan lahir atau terlahir kembali.

Di mana kau saat disrupsi ini tiba?

//kimun666//extrememoshpitmagazine