Loading
Play
Extreme Radio Show
Play
Extreme Radio Show

GELORA DUNIA DI SAPARUA 1920s

Gelora Saparua selalu disebut sebagai satu titik penting dalam perkembangan musik di Indonesia, terutama terkait dengan kelahiran musik bawahtanah yang mengusung semangat independensi. Namun tahukah kawan-kawan jika sejarah panjang musik di Gelora Saparua ternyata sudah bergaung tak lama setelah ia didirikan tahun 1917? Gaung itu bahkan merupakan satu spektrum global yang meneguhkan Gelora Saparua di sejarah percaturan politik, budaya, dan ekonomi dunia masa itu.

Berdirinya kawasan Saparua berawal dari masuknya olahraga atletik ke Indonesia pada periode 1910an sebagai salah satu pelajaran sekolah. Pelajaran atletik dengan cepat berkembang di Indonesia dan hal ini disambut dengan didirikannya organisasi Nederlands Indische Atletiek Unie (NIAU) atau Perserikatan Atletik Hindia Belanda (NIAU) pada 1917. NIAU kemudian membangun satu lapangan atletik yang bersanding dengan sebuah taman. Lapangan ini kemudian disebut Lapangan Nederlands Indische Atletiek Unie (NIAU), sementara belakangan taman yang berada di sandingnya, kini kita kenal sebagai Taman Maluku. Kawasan Lapangan NIAU ini kini merupakan gabungan dari Lapangan Saparua dan Gedung Olah Raga Saparua.

Beriringan dengan dibangunnya pusat atletik ini, sejak 1917 pemerintah Hindia Belanda sedang merintas sebuah acara bursa tahunan dengan de Vereneging Nederlandsch-Indische Jaarbeurs yang diketuai Ir MH Damme. Di dunia awal tahun 1920an memang sedang menggelora berbagai ekspansi perdagangan para pebisnis Eropa dengan komoditas utama berbagai barang yang dieksplorasi dari tanah jajahan mereka. Diawali tahun 1887 pameran budaya dunia (World Exposition) pertama di Paris, Prancis, pameran budaya dunia ini dengan cepat menjadi momen di mana hasil eksplorasi ekonomi dari tanah jajahan bangsa Eropa di seluruh dunia dipamerkan, diiringi dengan dipamerkannya berbagai kemajuan di bidang teknologi, eksperimentasi seni, hibriditas budaya, berdampingan dengan pergulatan ideologis yang merajai dunia saat itu. Sempat terhenti pada masa Perang Dunia I antara tahun 1914 hingga 1918, pameran budaya dunia kembali digelar dengan berbagai bentuk yang lain. Memasuki awal tahun 1920, seiring dengan kemajuan bisnis komoditas mereka di Indonesia, pemeritah Hindia Belanda mulai menggelar pameran-pameran perdagangan. Pameran-pameran ini digelar di kota-kota besar, terutama di Jakarta, Surabaya, dan di Bandung. Bisa disebutkan, pameran ini memiliki nilai global yang sangat tinggo karena diikuti oleh berbagai pebisnis dari berbagai belahan dunia.

Di Bandung, pameran komoditas perekonomian ini dinamai Bursa Tahunan atau Jaarbeurs. Acara ini adalah pameran perdagangan yang diprakarsai oleh Wali Kota Bandung kala itu, B.Coops dan komunitas wisata Bandoeng Vooruit. Bila diumpamakan, pameran ini menyerupai Pekan Raya Jakarta di mana pemerintah mendukung berbagai produk usaha industri dan masyarakat yang saat itu didominasi warga Eropa, untuk dipamerkan di dalamnya. Beragam produk meramaikan Bursa Tahunan ini, di antaranya adalah produk-produk terkenal “Madame Blanche Cream”, “Hollandsche Zuurkraam B.H. Slegt”, “Ramboet Netjis”, “Obat Mata”, “Bedak Violet Lam Hwa Semarang”, “Java Bier”, dan sebagainya. Masing-masing stand berdiri dengan dekorasi tematik yang didesain semenarik mungkin.

Tak hanya menghadirkan berbagai produk perekonomian, pameran ini juga menghadirkan atraksi dan hiburan rakyat seperti aneka konser musik, permainan, tonil, sirkus, sandiwara, bianglala, area kuliner, pertunjukan kesenian tradisional, dan sebagainya. Selain itu hiburan lain yang tak kalah legendaris di Jaarbeurs adalah penari “Si Royal” yang selalu menjadi rebutan kaum laki-laki jika sudah turun ke gelanggang. Artis-artis yang tampil di sini pun tak sembarangan. Berbagai nama yang mencuat saat itu seperti Miss Annie Landouw, Miss Nelly, Miss Tjietjieh, dan Miss Riboet tercatat kerap tampil dan memeriahkan acara Bursa Tahunan ini melalui aktivitas lomba nyanyi.

Dikisahkan, pencipta lagu-lagu nasional Ismail Marzuki juga kerap datang dan menikmati hype musik dan budaya yang di Bursa Tahunan. Sang Komponis saat itu datang ke Bandung untuk membentuk dan memimpin Orkes Studio Ketimuran NIROM (Nederlandsch Indische Radio Omroep/Siaran Radio Hindia Belanda) dan sangat terpesona pada suara dan kecantikan Euis Anjung yang tampil di atas panggung Jaarbeurs. Mojang Priangan putri seorang anggota reserse polisi ini bukah hanya telah menimbulkan inspirasi lagu “Panon Hideung” yang penuh sanjungan pada seorang gadis. Bang Maing, begitu panggilan akrab Ismail Marzuki, akhirnya menyunting gadis yang dipuja-pujanya itu.

Tak pelak, musik kemudian menjadi daya tarik lainnya bagi masyarakat dari seluruh dunia, utamanya Bandung, untuk hadir di gelaran ini. Nama-nama musisi yang hadir di Jaarbeurs juga kemudian menjadi nama-nama utama dalam industri musik dan seni pertunjukan di Indonesia. Tak hanya itu, para seniman dari ranah lain seperti pelukis Basuki Abdullah yang berhasil menembus Eropa baik secara pasar mau pun Pendidikan, juga menambah kisah panjang seni dan budaya yang terkurasi sangat kuat dari gelora kultus pergelaran Bursa Tahunan ini.

Antara tahun 1920 hingga tahun 1924 Jaarbeurs ini digelar di Lapangan NIAU di mana lapangan besar ini dihias berbagai pernak-pernik keramaian dan bangunan-bangunan semi permanen tempat berbagai ranah bisnis menampilkan komoditasnya disertai dengan sisipan-sisipan kebudayaan yang mereka tampilkan untuk menarik minat khalayak. Lapangan NIAU bisa disebutkan kemudian perlahan menjelma menjadi satu sentra lain di Bandung yang merepresentasikan gelora dan dinamika perkembangan ekonomi, sosial, budaya, politik, dan ideologi, termasuk juga musik. Skup dinamikanya pun tak cuma lokal, namun skup nasional Hindia Belanda dan tentunya global internasional. Spirit globalitas ini terus terwariskan dari masa ke masa. Hingga pergerakan pada masa-masa selanjutnya di dunia musik, semua band yang lahir dari kawasan ini—sebutkan saja secara tegas Gelora Saparua—kemudian menjadi band yang penuh dengan kompleksitas dengan daya dobrak membumi namun penuh dengan visi internasional dalam berbagai pergerakannya. 

Tahun 1925 karena semakin kompleksnya perkembangan perdagangan ini, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun Gedung permanen tempat berkantornya berbagai kongsi dagang internasional sekaligus kantor pusat Jaarbeurs di Bandung. Gedung ini dibangun oleh dua arsitek legendaris kakak beradik Schoemaker. Gedung ini kemudian dinamakan Gedung Jaarbeurs. Menunjukkan nilai globalitasnya, di depan Gedung Jaarbeurs dihadirkan tiga buah patung Atlas dengan sikap mitoogisnya yang sedang memanggung bola dunia. Gedung Jaarbeurs berada di jalan Menadostraat. Kelak, setelah penyerahan kedaulatan, nama jalan itu diganti menjadi Jalan Aceh.  

***

Jaarbeurs pertama kali diselenggarakan selama hampir sebulan lamanya dari tanggal 17 Mei sampai dengan 5 Juni 1920.  Usai itu, Jaarbeurs telah mengundang wisatawan, sehingga daya tarik kota Bandung makin bertambah. Pada tahun ke tiga gelarannya,  Tentara dan Angkatan Laut Belanda mengambil bagian dengan memamerkan kekuatan militer udaranya. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan membentuk dinas pos selama pameran berlangsung yang menghubungkan Bandung-Batavia pergi pulang dengan satu penerbangan. Walau namanya dinas pos, akan tetapi yang diangkut bukan hanya barang-barang kiriman pos, akan tetapi juga mengangkut penumpang.

Berkat penyelengraan bursa tahunan itu, daya tarik kota Bandung bertambah sehingga  kebanjiran wisatawan. Mereka bukan hanya berasal dari kota-kota besar di Hindia Belanda, akan tetapi tidak sedikit yang datang dari Negeri Belanda. Walau sejak 1922 di Surabaya diselenggarakan kegiatan serupa, namun hal itu tidak mengurangi minat wisatawan berkunjung ke Bandung. Terbukti ketika pertama kali dibuka, pengunjung Jaarbeurs sudah mencapai 60.000 orang. Bahkan pada tahun-tahun berikutnya, kunjungan itu terus meningkat, sehingga selama Jaarbeurs digelar pada tahun 1929 tercatat tidak kurang dari 226.000 pengunjung.

Akan tetapi  kegiatan yang ikut mengharumkan nama kota Bandung itu hanya bisa diselenggarakan sebanyak 21 kali. Ketika kekuasaan beralih, Jepang menutup semua kegiatan yang berbau Belanda. Kegiatan Jaarbeurs yang terakhir berlangsung dari tanggal 28 Juni – 13 Juli 1941.

Gedung Jaarbeurs digunakan sebagai kegiatan militer Republik Indonesia untuk pertama kalinya ketika ditempati sebagai Markas Detasemen Polisi Militer dipimpin Aboeng Koesman dan Kesatuan Detasemen Markas Kodam III/Siliwangi dipimpin Letnan I Subrata. Saat itu, anggota Detasemen Polisi Militer yang berjumlah sekitar 90 orang hanya dilengkapi persenjataan sekitar sepuluh pistol dan beberapa bayonet. Markas di gedung Jaarbeurs sempat dikosongkan ketika  terjadi serbuan mendadak pasukan liar yang dipimpin Kapten Westerling pada tanggal 23 Januari 1950 pagi. Untuk menghindarkan terjadinya korban, pasukan yang dipimpin Aboeng Koesman mencoba bertahan di daerah Cikutra.

BERSAMBUNG

EXTREME MOSHPIT 0421 // KRLTRV